Jumat, 17 Oktober 2014

EngKAU,dia dan aku

Aku pernah menyerah pada rasa
Diperbudak oleh nafsu fana
Terpuruk hanya karna cinta dunia
Aku tak lagi mengenali jati diri
Tak sanggup bangun apalagi berdiri

Mimpi menghancurkanku
Berharap datang dalam nyataku
Tapi
Praharalah yang justru kutemu
Pesakitanlah yang kuterima dan serupa pengorbanan yang tersia sia

Topang aku duhai Engkau Yang Maha Tahu
Tuntun kembali aku kejalanMU
Cukup tamparan ini memperingatkanku
Bahwa dia tak lebih berarti dari pada apa yang telah EngKAU anugerahkan kepadaku

Ampuni aku duhai EngKAU Yang Maha Pengampun..
Ya AllAH..
Ya Robb..
Amiin



30 Juni 2014

Cinta dan rintihannya

Siapa aku kini dimatamu
Tak lebih dari sekedar lawan bicara
Aku telah menjelma sama
Ter ubah aku seperti teman perempuan perempuanmu
Tak ada lagikah istimewaku dihati

cinta atau hanya obsesi takut kehilangan semata yang kau berikan?

Luruh air mata setiap parasmu menjelma didepan mata
Berontak hati mengebu merindukanmu
Sesak ini masih sama rasanya
Aku mencintai tapi kamu tidak lagi

Dinginmu membeku menusuk hati
Sosokmu tak lagi bisa kukenali
Pelan namun pasti kan kubawa cinta ini pergi tanpa permisi



05 Juli 2014

Rahasia masa

Bersama hujan melucutin badan
Prahara mengombang ambingkan jati diri
Bak perahu patah kemudi teramuk badai terlempar gelombang
Aku terhuyung tak terarahkan

Kemana akan berlindung sedang tempat bertambat tak jua kudapat

Antara hidup dan maut
Gelombang menghempaskan kencang diantara karang karang
Dan ketakutan membuatku jadi pengecut

Dengan terbata bata kukerahkan kembali akal pikiran
Kuelus kutembus lembut dengan halus
Agar ketakutan berubah menjadi keakraban dan berganti pengertian

Gelegar badai bertalu talu
Hujanpun tak kunjung henti menderu
Apa yg akan terjadi
Tak kan terungkap lebih dini
karena ini adalah rahasia Sang ILLAHI...



16 Juli 2014

Tak ada lagi aku di antaranya

Di binarnya mata nanar aku menatapmu
Kutarik paksa lengkungan garis dari bibirku
Dan berhasil kucipta senyum walau dalam hati hujamnya tak jua henti

Satu alenia yang pernah tercipta
Tak ada lagi aku diantaranya
Bait yang dulu memujaku
Kini bukan lagi milikku

AKu menghargai satu pesan yang tak kau ungkapkan
Tlah kuraba dan kueja dengan seksama
Pesan panjang yang tercipta menggairahkan bara

Semakin dalam kuselami semakin sesak pula kuhirup udara
Kukembangkan penuh dengan senyuman
Namun bendungpun tak mampu menampung dan pecahlah semua



19 jULI 2014

Perdebatan rasa

Kepada bentang tak bersekat 
saat awan merayap meninggi kutitip rindu dipunggungmu,
semoga kau jatuhkan tepat dijantung kekasihku

Namun
Tepat dibawah rembulan memerah
Aku tatap engkau lekat lekat
Kudapati binar nyala matamu tepat dibulatnya
Ternyata ada dia bukannya aku

Separuh bentang terlewat sudah,perdebatan rasa tak jua sirna
kuusir rindu namun hati merintih memanggil namamu
Harus bagaimana aku sedang engkau tak lagi menginggatku..



22 Juli 2014

Purnama sibatangkara

Akulah sebatang kara
Dedaun kering diantara dahan dan ranting

Wahai engkau angin
Datanglah dengan lenggang gemulaimu
Rontokkan segala keringku
Biar aku jatuh dan berhamburan
Terhempas diatas tanah dan terlindas

Akulah sebatang kara
Menunggu jedah saat purnama tiba
Berganti musim ditengah kering yang melanda
Berharap istimewa purnama membawa hujan sejukkan dahan

Akulah sebatang kara
Penikmat istimewanya purnama yang tak lg sempurna
Mengajak menuntunku ke masa lalu
Saat indah aku bersimpuh
Dikakimu
Kini menjelma tersungkur aku diatas pusaramu

wahai engkau Sang Empunya Alam
Kutitipkan selarik doa setangkup permintaan
Lapangkanlah,sayangi­
lah,serta tempatkanlah mereka diantara tempat
tempat terbaikMU..
Amiin..
Ya AllAH Amiin..


26 Juli 2014

Dalam sepotong hati

Engkau hadir kala sepi menyambangi
Tatkala sepasukan sunyi bersenjata airmata melumpuhkan jiwa
Aku terjebak
Dalam kelam disinggasana malam
Kukira bintang yang berkilauan nyatanya mata belati yang bersilauan

Aku buta
Arah hati juga kebenarannya
Kukira kesejatian cinta yang kuterima
Tak kusangka welas asih kasihan yang dia berikan

Oh dunia dalam hati
Tak seorangpun mampu mengerti
Sedalam apa ku selami tak pula ku temu satu jawab pasti
Luasmu melebihi batas pandang para netra
Dalammu tak terkira oleh ukuran dunia

Aku mengerti
Tak seharusnya aku selami
Kedalaman sebuah hati yang tiada kira ujung pangkalnya

Pulang
Aku kembali pulang

Terima kasih untuk
Telah ikhlas menemani menyediakan bahu tempatku bersandar walo sejenak



01 Agustus 2014