Aku pernah menyerah pada rasa
Diperbudak oleh nafsu fana
Terpuruk hanya karna cinta dunia
Aku tak lagi mengenali jati diri
Tak sanggup bangun apalagi berdiri
Mimpi menghancurkanku
Berharap datang dalam nyataku
Tapi
Praharalah yang justru kutemu
Pesakitanlah yang kuterima dan serupa pengorbanan yang tersia sia
Topang aku duhai Engkau Yang Maha Tahu
Tuntun kembali aku kejalanMU
Cukup tamparan ini memperingatkanku
Bahwa dia tak lebih berarti dari pada apa yang telah EngKAU anugerahkan kepadaku
Ampuni aku duhai EngKAU Yang Maha Pengampun..
Ya AllAH..
Ya Robb..
Amiin
30 Juni 2014
Catatan Sepotong Hati
Jumat, 17 Oktober 2014
Cinta dan rintihannya
Siapa aku kini dimatamu
Tak lebih dari sekedar lawan bicara
Aku telah menjelma sama
Ter ubah aku seperti teman perempuan perempuanmu
Tak ada lagikah istimewaku dihati
cinta atau hanya obsesi takut kehilangan semata yang kau berikan?
Luruh air mata setiap parasmu menjelma didepan mata
Berontak hati mengebu merindukanmu
Sesak ini masih sama rasanya
Aku mencintai tapi kamu tidak lagi
Dinginmu membeku menusuk hati
Sosokmu tak lagi bisa kukenali
Pelan namun pasti kan kubawa cinta ini pergi tanpa permisi
05 Juli 2014
Tak lebih dari sekedar lawan bicara
Aku telah menjelma sama
Ter ubah aku seperti teman perempuan perempuanmu
Tak ada lagikah istimewaku dihati
cinta atau hanya obsesi takut kehilangan semata yang kau berikan?
Luruh air mata setiap parasmu menjelma didepan mata
Berontak hati mengebu merindukanmu
Sesak ini masih sama rasanya
Aku mencintai tapi kamu tidak lagi
Dinginmu membeku menusuk hati
Sosokmu tak lagi bisa kukenali
Pelan namun pasti kan kubawa cinta ini pergi tanpa permisi
05 Juli 2014
Rahasia masa
Bersama hujan melucutin badan
Prahara mengombang ambingkan jati diri
Bak perahu patah kemudi teramuk badai terlempar gelombang
Aku terhuyung tak terarahkan
Kemana akan berlindung sedang tempat bertambat tak jua kudapat
Antara hidup dan maut
Gelombang menghempaskan kencang diantara karang karang
Dan ketakutan membuatku jadi pengecut
Dengan terbata bata kukerahkan kembali akal pikiran
Kuelus kutembus lembut dengan halus
Agar ketakutan berubah menjadi keakraban dan berganti pengertian
Gelegar badai bertalu talu
Hujanpun tak kunjung henti menderu
Apa yg akan terjadi
Tak kan terungkap lebih dini
karena ini adalah rahasia Sang ILLAHI...
16 Juli 2014
Prahara mengombang ambingkan jati diri
Bak perahu patah kemudi teramuk badai terlempar gelombang
Aku terhuyung tak terarahkan
Kemana akan berlindung sedang tempat bertambat tak jua kudapat
Antara hidup dan maut
Gelombang menghempaskan kencang diantara karang karang
Dan ketakutan membuatku jadi pengecut
Dengan terbata bata kukerahkan kembali akal pikiran
Kuelus kutembus lembut dengan halus
Agar ketakutan berubah menjadi keakraban dan berganti pengertian
Gelegar badai bertalu talu
Hujanpun tak kunjung henti menderu
Apa yg akan terjadi
Tak kan terungkap lebih dini
karena ini adalah rahasia Sang ILLAHI...
16 Juli 2014
Tak ada lagi aku di antaranya
Di binarnya mata nanar aku menatapmu
Kutarik paksa lengkungan garis dari bibirku
Dan berhasil kucipta senyum walau dalam hati hujamnya tak jua henti
Satu alenia yang pernah tercipta
Tak ada lagi aku diantaranya
Bait yang dulu memujaku
Kini bukan lagi milikku
AKu menghargai satu pesan yang tak kau ungkapkan
Tlah kuraba dan kueja dengan seksama
Pesan panjang yang tercipta menggairahkan bara
Semakin dalam kuselami semakin sesak pula kuhirup udara
Kukembangkan penuh dengan senyuman
Namun bendungpun tak mampu menampung dan pecahlah semua
19 jULI 2014
Kutarik paksa lengkungan garis dari bibirku
Dan berhasil kucipta senyum walau dalam hati hujamnya tak jua henti
Satu alenia yang pernah tercipta
Tak ada lagi aku diantaranya
Bait yang dulu memujaku
Kini bukan lagi milikku
AKu menghargai satu pesan yang tak kau ungkapkan
Tlah kuraba dan kueja dengan seksama
Pesan panjang yang tercipta menggairahkan bara
Semakin dalam kuselami semakin sesak pula kuhirup udara
Kukembangkan penuh dengan senyuman
Namun bendungpun tak mampu menampung dan pecahlah semua
19 jULI 2014
Perdebatan rasa
Kepada bentang tak bersekat
saat awan merayap meninggi kutitip rindu dipunggungmu,
semoga kau jatuhkan tepat dijantung kekasihku
Namun
Tepat dibawah rembulan memerah
Aku tatap engkau lekat lekat
Kudapati binar nyala matamu tepat dibulatnya
Ternyata ada dia bukannya aku
Separuh bentang terlewat sudah,perdebatan rasa tak jua sirna
kuusir rindu namun hati merintih memanggil namamu
Harus bagaimana aku sedang engkau tak lagi menginggatku..
22 Juli 2014
saat awan merayap meninggi kutitip rindu dipunggungmu,
semoga kau jatuhkan tepat dijantung kekasihku
Namun
Tepat dibawah rembulan memerah
Aku tatap engkau lekat lekat
Kudapati binar nyala matamu tepat dibulatnya
Ternyata ada dia bukannya aku
Separuh bentang terlewat sudah,perdebatan rasa tak jua sirna
kuusir rindu namun hati merintih memanggil namamu
Harus bagaimana aku sedang engkau tak lagi menginggatku..
22 Juli 2014
Purnama sibatangkara
Akulah sebatang kara
Dedaun kering diantara dahan dan ranting
Wahai engkau angin
Datanglah dengan lenggang gemulaimu
Rontokkan segala keringku
Biar aku jatuh dan berhamburan
Terhempas diatas tanah dan terlindas
Akulah sebatang kara
Menunggu jedah saat purnama tiba
Berganti musim ditengah kering yang melanda
Berharap istimewa purnama membawa hujan sejukkan dahan
Akulah sebatang kara
Penikmat istimewanya purnama yang tak lg sempurna
Mengajak menuntunku ke masa lalu
Saat indah aku bersimpuh
Dikakimu
Kini menjelma tersungkur aku diatas pusaramu
wahai engkau Sang Empunya Alam
Kutitipkan selarik doa setangkup permintaan
Lapangkanlah,sayangi
lah,serta tempatkanlah mereka diantara tempat
tempat terbaikMU..
Amiin..
Ya AllAH Amiin..
26 Juli 2014
Dedaun kering diantara dahan dan ranting
Wahai engkau angin
Datanglah dengan lenggang gemulaimu
Rontokkan segala keringku
Biar aku jatuh dan berhamburan
Terhempas diatas tanah dan terlindas
Akulah sebatang kara
Menunggu jedah saat purnama tiba
Berganti musim ditengah kering yang melanda
Berharap istimewa purnama membawa hujan sejukkan dahan
Akulah sebatang kara
Penikmat istimewanya purnama yang tak lg sempurna
Mengajak menuntunku ke masa lalu
Saat indah aku bersimpuh
Dikakimu
Kini menjelma tersungkur aku diatas pusaramu
wahai engkau Sang Empunya Alam
Kutitipkan selarik doa setangkup permintaan
Lapangkanlah,sayangi
lah,serta tempatkanlah mereka diantara tempat
tempat terbaikMU..
Amiin..
Ya AllAH Amiin..
26 Juli 2014
Dalam sepotong hati
Engkau hadir kala sepi menyambangi
Tatkala sepasukan sunyi bersenjata airmata melumpuhkan jiwa
Aku terjebak
Dalam kelam disinggasana malam
Kukira bintang yang berkilauan nyatanya mata belati yang bersilauan
Aku buta
Arah hati juga kebenarannya
Kukira kesejatian cinta yang kuterima
Tak kusangka welas asih kasihan yang dia berikan
Oh dunia dalam hati
Tak seorangpun mampu mengerti
Sedalam apa ku selami tak pula ku temu satu jawab pasti
Luasmu melebihi batas pandang para netra
Dalammu tak terkira oleh ukuran dunia
Aku mengerti
Tak seharusnya aku selami
Kedalaman sebuah hati yang tiada kira ujung pangkalnya
Pulang
Aku kembali pulang
Terima kasih untuk
Telah ikhlas menemani menyediakan bahu tempatku bersandar walo sejenak
01 Agustus 2014
Tatkala sepasukan sunyi bersenjata airmata melumpuhkan jiwa
Aku terjebak
Dalam kelam disinggasana malam
Kukira bintang yang berkilauan nyatanya mata belati yang bersilauan
Aku buta
Arah hati juga kebenarannya
Kukira kesejatian cinta yang kuterima
Tak kusangka welas asih kasihan yang dia berikan
Oh dunia dalam hati
Tak seorangpun mampu mengerti
Sedalam apa ku selami tak pula ku temu satu jawab pasti
Luasmu melebihi batas pandang para netra
Dalammu tak terkira oleh ukuran dunia
Aku mengerti
Tak seharusnya aku selami
Kedalaman sebuah hati yang tiada kira ujung pangkalnya
Pulang
Aku kembali pulang
Terima kasih untuk
Telah ikhlas menemani menyediakan bahu tempatku bersandar walo sejenak
01 Agustus 2014
Langganan:
Postingan (Atom)






